Kehadiran perubahan jumlah kromosom dalam sel tumor memprediksi respons terhadap imunoterapi menjadi pelengkap beban mutasi, menunjukkan studi terbaru yg dipimpin sang para peneliti di University of Chicago dan diterbitkan pada Nature Genetics .
Imunoterapi kanker artinya galat satu pencapaian utama pada pengobatan kanker. Sejalan menggunakan pengembangan pendekatan terapeutik ini, yg berusaha buat mengaktifkan sistem kekebalan terhadap sel tumor, terdapat tantangan klinis lainnya: mengidentifikasi biomarker yang memungkinkan buat memprediksi apakah pasien akan merespons pengobatan.
keliru satu biomarker yg paling menjanjikan ialah beban mutasi tumor , yang telah divalidasi pada berbagai penelitian menjadi biomarker prognostik serta prediktif buat pengobatan menggunakan inhibitor pos pemeriksaan imun. dengan demikian, diperkirakan beban mutasi yang tinggi dikaitkan dengan respons yang lebih baik terhadap pengobatan dengan imunoterapi. Masalahnya adalah sebagian besar pasien membagikan beban mutasi yang rendah dan tidak ada biomarker yg memungkinkan buat memprediksi respons mereka terhadap imunoterapi.
Sebuah karya teranyar yang dilakukan oleh para peneliti pada University of Chicago telah mengidentifikasi adanya perubahan jumlah kromosom (aneuploidies) pada tumor menjadi biomarker respon pada tumor dengan beban tumor yang rendah.
Perubahan jumlah kromosom di kanker
Aneuploidies artinya fitur awam pada kanker. Mereka hadir buat taraf yg lebih akbar atau lebih kecil dalam proporsi sampel tumor yg tinggi.
karena keseragaman yg muncul pada tumor, studi yang tidak selaras mulai mempertimbangkan penggunaan aneuploidi menjadi biomarker prognostik klinis. dalam arah ini, tim peneliti asal University of Chicago yg dipimpin oleh Sean Pitroda, mengusulkan aneuploidi tumor sebagai biomarker dan sasaran terapi di pasien menggunakan kanker paru-paru non-sel mungil yang diobati dengan radioterapi serta agen penghambat pos pemeriksaan kekebalan.
Aneuploidi menjadi biomarker respon terhadap imunoterapi
dalam studi paralel, tim Pitroda telah mengidentifikasi eksistensi aneuploidies menjadi biomarker independen dan komplementer terhadap beban mutasi .
Para peneliti menganalisis sampel berasal 1.660 pasien kanker yang diobati dengan penghambat pos pemeriksaan kekebalan dan menemukan bahwa tumor menggunakan beban mutasi yang rendah pada mana sejumlah akbar aneuploidi diamati memiliki prognosis yang lebih buruk .
“Studi kami memberikan langkah pertama yang penting pada tahu kiprah aneuploidi tumor pada respons terhadap imunoterapi pada tumor menggunakan beban tumor yang rendah,” para peneliti menyimpulkan. “yang akan terjadi ini memberikan kiprah potensial aneuploidi tumor dalam memandu personalisasi pendekatan terapeutik pada pasien menggunakan kanker yang tidak sama.”
Analitik yg praktis diimplementasikan
Tim peneliti menyoroti bahwa info perihal tingkat aneuploidi bisa diperkirakan berasal pengurutan DNA yang dilakukan secara rutin pada tumor. buat alasan ini, penerapan aneuploidi sebagai biomarker bisa sebagai relatif sederhana dalam pengaturan klinis di mana infrastruktur buat jenis analisis ini telah tersedia.


