Sains berusaha menyebarkan metode buat mengukur “usia biologis” sel kita, angka yang mungkin tidak sama asal usia kronologis kita. Secara teori, biomarker penuaan dapat menyampaikan cara buat mengukur kesehatan yang bisa merevolusi cara kita mempraktikkan kedokteran. Sebuah biomarker penuaan dapat digunakan buat melacak usia biologis berasal saat ke saat serta mengukur impak diet, olahraga, atau obat-obatan eksklusif dan memprediksi efeknya pada memperpanjang atau mempertinggi kualitas hayati. Sebuah biomarker dapat ditemukan atau didesain berdasarkan pengaruhnya terhadap usia biologis. dengan istilah lain, kita mampu mulai mengobati penuaan itu sendiri.
namun, sampai waktu ini tidak ada tes yang telah divalidasi yg secara seksama serta sangat prediktif mengukur usia biologis. Sebagian, ini karena kita belum memahami apa yg menyebabkan penuaan, serta karena itu kita tidak mampu mengukurnya. Kemajuan definitif pada lapangan membutuhkan validasi biomarker sepanjang hidup pasien, sesuatu yang hampir tidak mungkin dilakukan mengingat asa hidup orang yang panjang.
buat tahu komponen penuaan yg tidak dapat direduksi serta bagaimana mereka dapat diukur serta diuji, sains beralih ke penggunaan hewan di laboratorium. tidak seperti manusia, cacing C. elegans hidup homogen-rata 2 minggu, membuatnya praktis untuk mengumpulkan data perilaku serta umur yang seharusnya membutuhkan waktu berabad-abad.
A C. elegans memulai termin dewasa hidupnya dengan menjelajahi lingkungannya menggunakan penuh semangat. Seiring ketika, mereka melambat dan berhenti merangkak, tahap perilaku yg dikenal menjadi penghentian gerakan yang kuat (VMC). VMC adalah biomarker penuaan dan indikator kesehatan nematoda. Studi nematoda identik secara genetik sudah membagikan bahwa itu ialah indikator yg baik asal harapan hayati cacing. di saat yang sama, hegemoni yang didesain buat membarui penuaan bisa menghipnotis MCV secara tidak proporsional dibandingkan dengan harapan hidup, dan sebaliknya. Sebuah tim ilmiah dari Center for Genomic Regulation (CRG), di Barcelona, berusaha tahu mengapa hal ini terjadi dan apa ialah bagi proses penuaan pada insan.
Nicholas Stroustrup, pemimpin kelompok pada acara penelitian Sistem biologi CRG, bertanggung jawab buat membangun ‘Mesin Umur’, perangkat yang dapat mengikuti kehidupan dan kematian puluhan ribu nematoda sekaligus. Cacing hayati di cawan Petri di bawah pengawasan pemindai yang memantau mereka sepanjang hidup mereka. menggunakan mencitrakan nematoda satu jam sekali selama berbulan-bulan, perangkat mengumpulkan data pada skala serta resolusi statistik yang sangat besar .
Tim peneliti menemukan bahwa nematoda memiliki setidaknya dua proses penuaan independen sebagian yang terjadi pada ketika yg sama: satu yang memilih MCV dan yg lainnya menentukan waktu kematian. Hasilnya dipublikasikan hari ini pada jurnal PLOS Computational Biology . Meskipun ke 2 proses mengikuti lintasan yang tidak sama, taraf mereka berkorelasi satu sama lain, yaitu, di individu pada mana CMV terjadi di tingkat yg dipercepat, begitu juga waktu kematian dan sebaliknya. dengan kata lain, penelitian tadi menyampaikan bahwa setiap nematoda mempunyai setidaknya dua usia biologis yg berbeda.
Temuan itu dimungkinkan berkat penggunaan indera genetik yang memungkinkan pengendalian laju penuaan nematoda, mampu mengendalikan asa hayati rata-rata populasi di setiap cawan Petri. indera ini bekerja menggunakan memberi label pada RNA polimerase II, enzim yg menghasilkan mRNA, menggunakan molekul mungil. Cacing diberi makan hormon auksin pada jumlah tidak sinkron, yang secara sempurna mengontrol kegiatan RNA polimerase II. Memodulasi kegiatan enzim bisa memodulasi harapan hayati cacing, memungkinkan berkisar antara dua minggu serta beberapa hari.
manusia lebih lengkap serta, dalam banyak hal, lebih kompleks daripada nematoda, sebagai akibatnya kemungkinan mereka mempunyai jumlah usia biologis yang lebih banyak daripada nematoda. Secara holistik, penelitian ini menunjukkan bagaimana beberapa, sebagian besar proses penuaan independen dapat bekerja sama buat mengakibatkan bagian binatang yang tidak selaras menua di taraf yg berbeda. Temuan ini menantang konsep bahwa binatang memiliki berukuran tunggal usia biologis yang bisa sebagai tanda kesehatan individu secara keseluruhan.
Studi ini juga membagikan bahwa, terlepas berasal mutasi dan hegemoni yg mengganti asa hidup pada nematoda, hubungan statistik antara usia biologis yg tidak sinkron permanen konstan. Ini menunjukkan adanya rantai komando yg tidak terlihat, atau struktur hierarkis, yg mengatur proses penuaan cacing dan mekanismenya belum ditemukan. Ini berarti bahwa ad interim proses penuaan mungkin independen, jua sahih bahwa beberapa orang menua “cepat” serta yang lain menua “lambat”, pada arti bahwa poly berasal proses penuaan mereka bertindak sama lebih cepat atau lebih lambat daripada rekan-rekan mereka.
Studi ini mempertanyakan asumsi krusial biomarker penuaan: bahwa saat intervensi mirip olahraga atau diet “meremajakan” biomarker, itu pertanda baik bahwa hayati yg mendasarinya pula berubah. “contoh kami membagikan bahwa biomarker dapat secara sepele terlepas asal akibat sebab mereka mengukur proses penuaan yang tidak secara pribadi terkait dengan yang akan terjadi, namun hanya berkorelasi dengannya pada sistem proses hierarkis,” kentara Dr. Stroustrup. merupakan, berita bahwa 2 bagian individu cenderung berkorelasi dalam usia biologis mereka tak berarti bahwa yg satu merupakan penyebab yg lain, atau bahwa mereka cenderung berbagi prosedur penuaan.”
Temuan ini mempunyai implikasi bagi konsumen produk komersial yang memperlihatkan buat menilai usia biologis. Tes usia biologis memakai panel biomarker yang diduga majemuk. menurut penulis penelitian, tes ini dapat mengukur ribuan aspek tidak selaras dalam diri seseorang, tetapi aspek ini bisa dikacaukan secara identik.
berdasarkan Dr. Stroustrup, penyelesaiannya terletak di menemukan biomarker yg mengukur proses penuaan yg tidak sama dan interaktif yang jua berkorelasi minimal satu sama lain. “Biomarker yg digunakan buat menilai usia biologis dapat diubah tanpa membarui dari ‘penuaan cepat’ menjadi ‘penuaan lambat.’ Peneliti wajib fokus pada pengukuran imbas hegemoni pada yang akan terjadi fungsional, daripada mengasumsikan bahwa perubahan biomarker akan secara langsung memprediksi hasil.”


