Para ilmuwan dari López Neyra Institute of Parasitology and Biomedicine, yg tergabung pada Higher Council for Scientific Research (CSIC), para peneliti yang tergabung pada Biosanitary Research Institute of Granada, dan bekerja sama menggunakan tempat tinggal sakit dan institusi Spanyol lainnya, telah menemukan kemungkinan penyebab arteritis sel raksasa, penyakit kronis yang bisa mengakibatkan kebutaan.
Arteritis sel raksasa ialah jenis vaskulitis sistemik kompleks, yg perkembangannya melibatkan faktor genetik, epigenetik, dan lingkungan, dan adalah penyakit langka, sehingga prevalensinya sangat rendah dan mensugesti lebih kurang 10 berasal setiap 100.000 orang selama 50 tahun. Meskipun penyebab pastinya belum diketahui, para peneliti asal kelompok Profesor Javier Martín telah menunjukkan peran krusial yang dimainkan monosit pada proses inflamasi yg sebagai karakteristik khas penyakit ini.
galat satu metode diagnostik primer adalah biopsi arteri temporal, yg terletak di area pelipis, suatu prosedur yang invasif. Pasien dapat membagikan berbagai tanda-tanda, termasuk komplikasi berfokus mirip kehilangan penglihatan tetap atau infark serebral. Glukokortikoid ialah pilihan pengobatan pertama buat penyakit ini, obat yang mengurangi peradangan sistemik intens yg terjadi, mencegah keluarnya tanda-tanda serius, meskipun pula membawa dan munculnya efek samping yang penting.
Tujuan berasal penelitian ini artinya buat menyelidiki peran monosit, sejenis sel dari sistem kekebalan tubuh, pada pasien dengan penyakit tadi. buat melakukan ini, mereka membandingkan profil metilasi DNA atau metilome, satu set modifikasi yg ada pada DNA, dan profil ekspresi gen atau transkriptom asal jenis sel ini antara 82 pasien dengan arteritis sel super besar serta 30 individu sehat. Para pasien diklasifikasikan menjadi 3 keadaan klinis yang tidak sinkron, termasuk pasien dengan dan tanpa pengobatan menggunakan glukokortikoid, dari CSIC.
hasil penelitian telah menyampaikan perubahan dunia berasal proses biologis dalam monosit pasien dengan arteritis sel super besar, yang memungkinkan pemahaman yang lebih baik wacana peran sel-sel ini pada peradangan sistemik yg didapatkan di penyakit. Secara spesifik, monosit pasien dengan gejala aktif menunjukkan aktivitas inflamasi yang tinggi. Selain itu, mereka juga membagikan bahwa pengobatan glukokortikoid membalikkan keadaan inflamasi monosit yg terkena.
Penelitian sudah memungkinkan pemahaman yg lebih pada wacana proses biologis yg terlibat dalam pengembangan arteritis sel super besar. Temuan ini dapat ditransfer ke praktik klinis melalui kemungkinan identifikasi biomarker, yang akan membantu memfasilitasi diagnosis arteritis sel raksasa serta mengoptimalkan pengobatan pasien menggunakan penyakit parah ini.
Artikel ini sudah disiapkan bekerja sama dengan para peneliti dari Josep Carreras Leukemia Research Institute, August Pi i Sunyer Biomedical Research Institute of Barcelona Hospital Clinic serta Granada Biomedical Research Institute.


