Biobank ialah sentra yang mengumpulkan, menyimpan serta mendistribusikan koleksi sampel dari biologis menggunakan tujuan memfasilitasi banyak sekali kegiatan, seperti penelitian atau pelestarian spesies yg terancam punah. banyak dari koleksi ini umumnya disimpan di suhu rendah pada nitrogen cair, sebab saat ini tidak terdapat metode yg lebih efisien untuk menyimpan dan mengawetkan sampel biologis tanpa mengubah integritasnya. namun, metode pengawetan ini mahal serta membutuhkan lebih banyak perawatan.
sekarang, tim peneliti yang dipimpin sang Dr. Teruhiko Wakayama berasal Universitas Yamanashi mungkin telah menemukan metode buat mengawetkan sampel bahan biologis eksklusif secara lebih efisien. dalam studi yg diterbitkan Juli kemudian di jurnal Nature Communications , tim mengkloning tikus sehat berasal sel beku-kemarau yang telah disimpan selama sembilan bulan.
Liofilisasi tidak menjaga integritas sel, tetapi mempertahankan DNA mereka
pada langkah pertama pada penelitian, tim Wakayama mengekstrak sel granulosa asal tikus betina. Para penulis mengarahkan sel-sel ini, yang membentuk steroid yang dibutuhkan buat folikulogenesis serta ovulasi, ke proses kehilangan cairan tubuh yang dikenal menjadi pengeringan beku.
Liofilisasi adalah teknik pengawetan pada mana sampel mengalami dehidrasi dengan menundukkannya pada suhu rendah dan kemudian menghilangkan es menggunakan sublimasi. Teknik ini ketika ini dipergunakan oleh berbagai perusahaan farmasi buat mengawetkan protein dan molekul terapeutik lainnya, dan pada bidang mikrobiologi, buat menyimpan kultur bakteri.
sesudah pengeringan beku, sel-sel granulosa yang diperoleh tidak lagi mempertahankan fungsi biologisnya, yaitu tak hidup. namun, DNA mereka permanen utuh serta berfungsi, mirip yang ditunjukkan oleh eksperimen selanjutnya.
Tikus yang dikloning asal sel yg diliofilisasi tidak menunjukkan perubahan pada umur panjang atau kesuburannya
Sembilan bulan selesainya pengeringan beku, tim merehidrasi sel-sel beku-kering dan memperkenalkan materi genetik mereka ke dalam oosit tikus, menghasilkan embrio awal menggunakan info genetik asal sel-sel beku-kering. berasal lebih kurang 2.000 embrio yg mereka peroleh asal teknik ini, para peneliti berhasil mendapatkan 19 tikus kloning yang benar-benar sehat.
dalam tes kedua, tim peneliti melakukan prosedur yang sama, kali ini memakai sel ekor asal tikus jantan serta betina. di kesempatan itu, tim berhasil mengkloning total 56 tikus sehat dari lebih dari 1.300 embrio.
Analisis selanjutnya memberikan bahwa betina yang diperoleh asal kloning sel yang diliofilisasi tidak membagikan perubahan dalam kapasitas reproduksinya dan keturunannya tidak menunjukkan komplikasi apa pun yang terkait dengan proses kloning. Tikus kloning jua memiliki umur panjang yang mirip dengan yg diharapkan buat tikus normal.
Studi ini artinya peningkatan dalam pengembangan teknik yg lebih efisien buat pengawetan sampel biologis, ad interim pada waktu yang sama menyoroti keterbatasan pada hal kinerja kloning sel lyophilized (ditunjukkan oleh rendahnya kinerja taktik yg digunakan). Penelitian selanjutnya akan membantu menyempurnakan teknik perlindungan materi genetik ini sebagai akibatnya dapat dipergunakan secara efektif pada biobank.
Studi ini merupakan peningkatan dalam pengembangan teknik yg lebih efisien buat pengawetan sampel biologis, sementara di ketika yg sama menyoroti keterbatasan pada hal kinerja kloning sel lyophilized (ditunjukkan oleh rendahnya kinerja taktik yang digunakan). Penelitian selanjutnya akan membantu menyempurnakan teknik konservasi materi genetik ini sehingga bisa dipergunakan secara efektif pada biobank.


