Sebuah studi yang dipimpin oleh para peneliti asal Dewan Tinggi buat Penelitian Ilmiah (CSIC) sudah menemukan bahwa konsumsi timbal dalam takaran yg tak mematikan mempengaruhi sistem kekebalan burung liar. menurut akibat penelitian ini, plumbisme, atau keracunan timbal, pada ayam hutan berkaki merah, binatang contoh berasal pekerjaan ini, mengakibatkan ketidakseimbangan mikrobiota usus, menaikkan kapasitas fagositik darah dan mengurangi tingkat antibodi yang bersirkulasi, serta lisozim , protein yang artinya bagian asal pertahanan melawan patogen, pada antara gangguan lainnya. Hasilnya sudah dipublikasikan pada jurnal Environmental Science and Technology .
Plumbisme artinya salah satu keracunan primer di burung liar serta amunisi timbal ialah penyebab utamanya. Keracunan timbal di burung terjadi ketika mereka menelan pelet yg dipergunakan pada perburuan mungil dan sisa peluru yg dipergunakan dalam perburuan akbar. yang berisiko keracunan timbal adalah unggas air, tetapi jua burung pemangsa, terutama yang mempunyai norma mengais-ngais, karena mereka dapat memakan mangsa yang ditembak,” kentara peneliti CSIC Rafael Mateo, berasal Hunting Resources Research Institute, center joint asal CSIC dan Universitas Castilla-La Mancha serta Junta de Comunidades de Castilla-La Mancha.
Selain ketidakseimbangan pada respon imun, para peneliti mengamati perubahan taraf antioksidan serta warna merah di cincin mata ayam hutan. Proses ini, studi membagikan, tergantung pada ketika tahun, karena bisa ditimbulkan oleh kebutuhan buat menaikkan rona di animo semi buat tujuan reproduksi.
“hasil penelitian ini memberi kita pandangan yang lebih lengkap tentang respon imun. efek di pertahanan ini bisa mensugesti kemampuan buat bereaksi terhadap patogen serta harus diperhitungkan mengingat risiko penyakit yang timbul, terutama dalam perkara spesies yg terancam, mirip beberapa burung yg bermigrasi dan burung pemangsa, yg memiliki eksposur tinggi. buat memimpin amunisi pada area tertentu di Spanyol” tambah Mateo.
buat menghindari plumbisme, penulis studi merekomendasikan buat menghentikan penggunaan amunisi timbal pada semua daerah asal serta bahwa pemburu beralih ke cara lain yg kurang beracun, mirip baja buat pelet dan tembaga buat peluru.


