Dalam faktor-faktor yang berkontribusi pada pemanjangan atau pemendekan telomer, stres memainkan kiprah penting. berbagai penelitian sudah mengkonfirmasi bahwa situasi stres dan kecemasan yang berkelanjutan, bahkan kronis, memiliki dampak yg menentukan pada panjang telomer kita , serta, menjadi akibatnya, pada kesehatan kita.
oleh sebab itu, hipotesis bahwa kebiasaan atau terapi pelepas stres membuat imbas perlindungan pada genetika kita dianggap valid. menggunakan cara yg sama bahwa nutrisi yang baik, berhenti merokok atau latihan fisik dapat memperpanjang telomer, praktik mental lainnya jua bisa berkontribusi di tujuan yang sama. Konfirmasi hipotesis ini ditawarkan sang penelitian terbaru, yg membagikan bahwa kegiatan telomerase semakin tinggi 43% di pasien dengan demensia yg bermeditasi 12 mnt sehari selama 2 bulan.
buat mendemonstrasikan hipotesis ini secara ilmiah, Life Length sudah berkolaborasi dalam beberapa penelitian menggunakan para peneliti berasal berbagai institusi, termasuk tempat tinggal Sakit Universitas Miguel Servert (Zaragoza), pusat Rodero di Santander, Universitas Federal Sao Paulo (Brasil) atau Universitas Institut Penelitian Ilmu Kesehatan (Universitat Illes Baleares). yg pertama, yang hasilnya diterbitkan pada Februari 2016 di jurnal Mindfulness, aku mencoba membagikan bahwa terdapat hubungan antara telomer panjang serta meditasi, serta banyak sekali variabel psikologis yg mengintervensi hubungan ini. buat melakukan ini, 2 kelompok orang dibandingkan dari apakah mereka telah bermeditasi atau tak sebelum pengukuran. Data membagikan bahwa mereka yang pernah bermeditasi mempunyai median panjang telomer yang lebih panjang.
yg kedua, disebut Medit-Ageing, masih pada pengembangan. Tujuannya ialah buat mempelajari efektivitas aneka macam intervensi pada penuaan yg sehat, menggunakan fokus pada kesehatan mental serta kesejahteraan. Para peneliti melakukan uji klinis dengan peserta dari masyarakat awam pada atas 65 tahun.


