Imunoterapi telah sebagai cara lain yg sangat efektif di berbagai jenis kanker. tetapi, persentase pasien yg mendapat manfaat dari perawatan ini masih terbatas sebab banyak faktor yang membatasi respons antitumor.
Peneliti Cima, terintegrasi ke pada Cancer Center Clínica Universidad de Navarra , sudah menemukan prosedur resistensi terhadap imunoterapi. Blokadenya tersaji sebagai target buat pengembangan obat baru melawan kanker.
“Antigen tumor ialah molekul penting bagi sistem kekebalan untuk mengenali tumor dan menghancurkannya. namun, seringkali, tumor itu sendiri membungkam beberapa antigen berkualitas tinggi sebagai akibatnya tidak diketahui sang sistem kekebalan tubuh dan dapat lolos berasal dampak imunoterapi”, jelas Dr. Fernando Pastor, peneliti di program Terapi Molekuler Cima serta direktur berasal kantor.
pada studi sebelumnya, Dr. Pastor mengidentifikasi bahwa “Nonsense-Mediated mRNA Decay” (NMD) memainkan kiprah yg sangat krusial pada membungkam beberapa antigen ini. sekarang, tim Cima melangkah lebih jauh: “dalam pekerjaan ini kami telah membuka kedoknya melalui frekuwensi yang bekerja di lingkungan mikro tumor serta yang diaktifkan menjadi respons terhadap dampak imunoterapi . Secara spesifik, kami mengamati bahwa aktivitas NMD bergantung di gen SMG1, yang diaktifkan sang frekuwensi inflamasi serta membatasi kemanjuran respon imun antitumor. Selain itu, kami memberikan bahwa memblokir frekuwensi-frekuwensi ini menaikkan kualitas antigen tumor serta dengan itu respon terhadap imunoterapi.” hasil studi teranyar ini telah dipublikasikan pada jurnal ilmiah tersebutKanker Molekuler .
Prognosis kanker paru-paru, pankreas serta payudara
Pekerjaan, yg dilakukan pada model binatang dan pada pasien, menegaskan bahwa eksistensi gen SMG1 taraf rendah dikaitkan dengan prognosis yg lebih baik pada kanker pankreas, paru-paru serta payudara. Demikian jua, disarankan agar pasien ini bisa merespons imunoterapi menggunakan lebih baik.
di sisi lain, salah satu kekhasan mekanisme resistensi yang dijelaskan sang kelompok Universitas Cima Navarra ini ialah dapat dimodulasi serta bersifat sementara. “Secara khusus, kami sudah memverifikasi bahwa itu diaktifkan terutama selama respons imun yg diinduksi oleh perawatan imunoterapi,” kata Dr. Pastor.
Pekerjaan yg dilakukan pada kerangka Health Research Institute of Navarra (IdiSNA) dan CIBER for Cancer (CIBERONC), telah mendapatkan dana berasal lembaga publik serta swasta, mirip Ramón Areces Foundation.


