Para peneliti di IBEC, bekerja sama menggunakan tempat tinggal sakit dan mitra internasional, sudah mengamati bahwa kekurangan protein prion seluler menyebabkan defisit perilaku, gangguan belajar, serta peningkatan rangsangan otak seperti epilepsi, pada tikus.
Protein prion seluler (PrPC), sebuah molekul yg terletak di bagian atas sel saraf, diketahui tidak seimbang di pasien insan yg menderita penyakit neurodegeneratif mirip penyakit Alzheimer atau Parkinson. namun, peningkatan pengetahuan tentang partisipasi PrPC pada penyakit ini perbedaan nyata menggunakan data mengenai peran alami dan mempromosikan kesehatan. Ini berarti bahwa sementara dalam beberapa penelitian protein ini sudah digambarkan menjadi pelindung untuk otak, pada penelitian lain ekspresi PrPC dikaitkan menggunakan peningkatan kerentanan terhadap neurotoksisitas.
Inkonsistensi tersebut terutama ditimbulkan oleh tidak adanya contoh tikus yang sesuai serta berkarakteristik baik. buat memperjelas kiprah nyata PrPC di fisiologi saraf, para peneliti di Institute for Bioengineering of Catalonia (IBEC), yg dipimpin sang José Antonio del Río, Profesor penuh Universitas Barcelona serta pemimpin kelompok IBEC telah secara intensif bekerja pada lima tahun terakhir pada tikus transgenik baru yang kekurangan PrPC yang didapatkan memakai teknologi TALEN, dan kini mereka melaporkan yang akan terjadi yg mengejutkan pada BCM Biology Journal.
Para ilmuwan dari Molecular and Cellular Neurobiotechnology IBEC’s class, bekerja sama dengan University Hospital of Zürich, University of Barcelona dan Pablo de Olavide University di Seville (Spanyol), telah menemukan bahwa tidak adanya PrPC Mengganggu fungsi kognitif mirip pembelajaran asosiatif dan memori. , serta menghasilkan perilaku mirip kecemasan. Para ahli pula menemukan bahwa kekurangan PrPC menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap kejang epilepsi di tikus ini.
dalam studi mereka, para peneliti melakukan serangkaian tes pengkondisian sikap serta operan buat mengevaluasi memori serta kemampuan belajar tikus, secara paralel dengan RNAseq, analisis jaringan neuron in vitro serta data elektrofisiologis in vivo . Hasilnya membagikan penurunan gerak yg kentara, gangguan pembelajaran pengkondisian operan, dan sikap terkait kecemasan di hewan yang kekurangan PrPC.
hasil membagikan bahwa protein PrPC mempromosikan pembentukan dan konektivitas jaringan saraf, serta memediasi fungsi sinaptik, jua melindungi asal eksitotoksik. Penghapusan PrPC mungkin mendasari otak yg rentan terhadap epileptogenik yg gagal melakukan tugas yang menuntut kognitif tinggi mirip pembelajaran asosiatif dan perilaku seperti kecemasan.
Studi ini dikembangkan tahun kemudian didukung sang La Caixa Research, sang Proyek PRPSEM berasal Kementerian Sains dan inovasi Spanyol, sang CIBERNED, acara CERCA, serta Komisi buat Universitas serta Penelitian dari Departemen inovasi, Universitas, dan Perusahaan Generalitat asal Catalunya.


